Thursday, February 20, 2020

Makna taksu pemangku " Siwa Rare Angon "


Oleh : Jmk Gde Garnida

Taksu pemangku menurut lontar kusuma dewa adalah Siwa Rare Angon
Siwa sendiri menurut Prof. Titib (2003) berarti yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberikan banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya,Rare berarti seorang anak kecil,Angon berarti pengembala.

Siwa Rare Angon bermakna sang penuntun (pengembala) umat dalam skala kecil (terbatas)  yang bertujuan untuk memperoleh kerahayuan,kebaikan,keberuntungan,ketenangan dan kebahagiaan.
Itulah tugas utama pemangku yang di sebut sebagai pelayan umat dengan wewenang (sesana) terbatas yang bersentuhan langsung dengan umat sedangkan wewenang yang lebih luas atau tak terbatas itu ranahnya sulinggih.dalam menyelesaikan upacara yadnya,seorang  pemangku masih ada batasnya sesuai anugrah nabenya yang tentu mesti di taati,inilah sebagain uraian dalam memaknai seorang pemangku melakukan tugas dalam skala kecil atau terbatas,namun tak bisa di pungkiri masih ada juga yang melanggar batas kewenangan sebagai seorang pemangku dengan berbagai alasan yang bisa di terima akal sehat dan ada juga hanya mencari pembenaran semata,untuk menutupi kekeliruan yang telah di lakukan,yang seharusnya memberi contoh yang baik bukan memelopori berbuat tidak baik.

Sebagai barisan terdepan dalam menuntun umat seyogyanya pemangku membekali diri dengan pengetahuan melalui proses aguron guron dan selalu tekun meningkatkan pengetahuannya seiring dengan perkembangan jaman di era globalisasi.

Apa yang di cetuskan oleh yang abra ida Sinuhun Bongkasa menghimbau bukan mewajibkan agar pinandita,bhawati,pandita minimal berkwalifikasi formal S1 sementara yang formal S1 di himbau ke S2 adalah sebuah visi berilian buat perkembangan Hindu ke depan yang sangat jauh tertinggal dari umat lain.jangan di artikan selain berpendidikan s1 bukan tidak boleh menjadi rohaniawan Hindu,karena pendidikan saja tidak cukup menjadikan seseorang layak sebagai rohaniawan Hindu,namun di balik itu semua,sebuah usaha perbaikan ke depan amat layak di dukung dan di perjuangkan walau masih dalam tahap rintisan.

Maka gebrakan yang di pelopori Griya Agung Bongkasa dengan memberikan fasilitas perkuliahan dan bekerjasama dengan UHN (IHDN) amat layak di dukung sepenuhnya demi kejayaan Hindu dan perkembangan kedepannya.
Visi beliau sebagai jawaban atas tantangan Hindu di era modernisasi yang penuh dengan masalah dan belum lagi serbuan budaya luar dan kepercayaan luar yang perlu di sikapi dengan bijak.maka upaya menangkal pengaruh negatif akan serbuan itu,peningkatan sdm Hindu amat di butuhkan sebagai langkah awal menambah dan menguatkan  pondasi kayakinan beragama.

Oleh karenanya sejalan dengan makna taksu pemangku,sudah sepatutnya peran pemangku di maksimalkan dengan selalu memberikan pelatihan berjenjang dan berkesinambungan sebagai bekal dalam menuntun umat sedharma agar semua permasalahan bisa di tuntaskan tanpa menyisakan masalah lagi,tanpa harus berpaling ajaran yang slalu mengintai dan mencari kelemahan atau sedikit kekeliruan  saja yang kemudian datang memberikan solusi seolah olah ajaran yang di tawarkan mampu mengatasi semua permasalahan hidup.padahal itu sebuah trik belaka dalam meluaskan ajaran dengan memanfaatkan situasi dan kondisi.maka memaksimalkan peran pemangku mutlak di lakukan sebagai ujung tombak dalam menuntun umatnya.

Dengan demikian Agama akan menjadi solusi alternatif di era medernisasi dalam pemecahan masalah umat sedharma dan pemangkulah menjadi ujung tombaknya.sehingga keberpalingan umat akan ajarannya bisa di cegah.

Rahayu
Tulisan jauh dari sempurna
Kami menerima kritik dan saran mohon sampaikan dengan baik kamipun menerima dengan baik

Wednesday, February 19, 2020

ini tata cara mengcopy paste agar terhindar dari karma buruk


Agama Hindu mengenal Tri Kaya Parisudha,yg artinya berfikir yg baik,berkata yg baik,berbuat yg baik,inilah nilai perilaku yg wajib di taati dan di praktekkan oleh penganut Hindu

Dengan semakin berkembangnya jaman,apalagi dlm dunia digital dan dlm dunia maya maka kemudahan mengakses informasi bukan menjadi barang langka,ada banyak informasi di medsos yg bisa di akses,dgn demikian makin banyak para penyedia informasi bak jamur di musim hujan

Ada yang memang hanya membagi pengetahuan saja,ada yg lebih cerdas dgn memanfaatkan untuk menambah pundi pundi rupiah,sah sah saja apa yg mereka lakukan.

Di saat kelompok pemburu rupiah berlomba menambah penghasilan mereka wajib menyediakan info terupdate bahkan harus layak jual agar klik per klik bisa menghasilkan rupiah,adalah langkah bagus bagi yg ingin menambah pundi rupiah.

Namun ada yg ironis bagi mereka yg kehabisan stock informasi sementara kesediaan info sdh banyak yg menunggu,mereka akhirnya melakukan langkah dengan jalan mengcopy paste tulisan orang lain dan memodif agar kelihatan berbeda,parahnya lagi tulisan asli penulis mereka hapus di ganti dengan punyanya yg seakan akan merekalah penulis aslinya,sayang beribu sayang justru kejadian ini di lakukan oleh web.bernafaskan Hindu.

Tanpa mereka sadari mereka telah melakukan sebuah pencurian dan mengakui jerih payah orang lain sebagai usahanya...
Ironis memang,tapi itulah realitanya,tanpa mereka sadari yg mereka sebarkan sebuah ajaran kebenaran,mereka  membagi sebuah ajaran suci di mana para pemeluknya di larang melakukan pencurian tanpa mereka sadari yg justru mereka membagikan informasi dari hasil curian juga.

Maling teriak maling itulah julukan mereka,agar terhindar dari karma buruk sebaiknya kalau mau copy paste mintalah ijin dulu kemudian cantumkan sumber asli penulisnya maka mereka akan bebas dari karma buruk,itulah nilai kejujuran sesuai ajaran tri kaya parisudha,berbuatlah yg baik,,jangan sampai budi baik terkontaminasi oleh kesalahan kecil saja sungguh amat di sayangkan sekali.

Sesungguhnya mereka sdh berbuat baik dengan ikut menyebarkan informasi apalagi mengenai ajran kebenaran,karena dlm sloka di sebutkan ' di antara yadnya dana punialah yg tertinggi dan di antara dana punia maka dana punia ilmu pengetahuan yg tertinggi' maka berbagi informasi amatlah mulia dan di benarkan oleh ajaran Hindu namun perlu di catat agar tak salah jalan maunya untung malah buntung,lakukan kejujuran,akuilah kejujuran maka karma baik akan slalu menghampiri...


Oleh ; Jmk Gde Nym Garnida

Monday, February 17, 2020

Jadilah diri sendiri bukan menjadi orang lain hanya demi sebuah PUJIAN

Jadilah diri sendiri bukan menjadi orang lain hanya demi sebuah PUJIAN
Sebuah ungkapan mengatakan ' jadilah diri sendiri bukan menjadi orang lain' ada benarnya cobalah kita kaji lebih dalam.

Di jaman kekinian dengan permasalahan hidup yang begitu komplek dan semua orang berlomba lomba seakan akan berusaha menjadi yang terbaik tentu memerlukan waktu dan usaha yang begitu banyak dan tidak jarang memanfaatkan situasi agar bisa meraih untung bukan buntung parahnya lagi orang mulai melupakan jasa orang yang telah ikut punya andil besar dalam mengantarkan mencapai suatu tujuan,tak jarang orang memaki akibat kekesalan yang di sebabkan oleh perilaku tak waras tersebut.

Amatlah susah kita mendapatkan orang yang betul tulus membantu orang lain dan amatlah susah kita mendapatkan orang yang menghargai jerih payah orang lain, yang telah mengantarkan ke puncak tujuan,dan kebanyakan mereka melupakan jasanya walaupun orang yang berjasa tidak pernah minta balas budinya.seperti pepatah " kacang lupa kulitnya "

Sebagai manusia yang di sebut mahluk sosial yang artinya tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain maka jika memahami ini,semestinya secara sadar tanpa perlu di ingatkan lagi,sudah tentu tidak akan melupakan jasa orang lain,ingatlah karma itu aktif 24 jam yang slalu merecord setiap detik kebaikan dan keburukan yang di lakukan.

Dalam sloka Bhagawad Gita di sebutkan " lakukanlah kewajibanmu walau tidak sempurna masih lebih baik dari pada melakukan kewajiban orang lain walau sempurna" sloka ini dapat di maknai menjadi diri sendiri lebih baik dari pada menjadi orang lain walau dapat pujian atau pengakuan sekalipun,yang sebenarnya bukan pengakuan atau pujian yang perlu di capai,tetapi sadarilah hidup di dunia sedang menjalani sebuah proses reinkarnasi maka menjadi diri sendiri adalah sebuah proses menjalani kewajiban yang di wajibkan akibat dari karma phala.

Ada pepatah mengatakan " jelek-jelek punya sendiri masih lebih baik dari pada bagus-bagus tapi punya orang lain " adalah mengandung nasehat yang baik agar bisa menyikapi kondisi dan situasi diri sendiri,agar tidak berlebihan di luar kemampuan.

Maka menjadi diri sendiri dan menjalankan kewajiban sendiri walau tdk sempurna jauh lebih bernilai ketimbang mengejar PUJIAN atau pengakuan orang lain.sadarilah di sanjung tidak akan membuat menjadi rembulan di rendahkan tidak akan menjadi sampah.

Sadarilah kebanyakan orang akan datang minta bantuan pada saat mereka merasa kesulitan dan akan lupa saat mereka meraih sukses,sangatlah relevan sloka Bhagawad Gita di jaman kekinian di mana jaman penuh perlombaan entah dengan siapa mereka berlomba lomba,namun begitulah realitanya..

Hidup memang bukan ajang perlombaan,namun berlombalah mengendalikan nafsu,hidup ini memang bukan juga ajang mencari siapa pemenang dan siapa pecundang namun jadilah pemenang dalam pengendalian nafsu,hidup ini untuk menjalani sebuah proses reinkarnasi untuk menggapai Moksa.hidup ini bukan di nilai dari siapa yang terbaik tapi di nilai dari siapa yang mampu berbuat baik maka mulailah dari diri sendiri melakukan upaya yang baik bukan menjadi orang lain karena karma di tanggung oleh diri sendiri bukan oleh orang lain.


Oleh : Jmk Gde Nym Garnida

Wednesday, February 12, 2020

Ketika ekajati keberadaanya tidak di pakai oleh kerabat dan warga sekitarnya

Ketika ekajati keberadaannya tidak di pakai oleh kerabat dan warga sekitarnya

Keberadaan diri yang diakui oleh orang lain tak jarang membuat orang2 bisa merasa bahagia. Pandangan orang lain terhadap kita tidak jarang membuat kita berusaha keras untuk diakui. Hal ini karena pengakuan dari orang lain atas diri kita, membuat kita merasa hidup dan hidup jadi lebih berarti.

Tapi apakah benar pengakuan dari orang lain benar-benar membuat kita bahagia atau hanya untuk gengsi semata? Tidak jarang sebagian besar yang pada akhirnya tidak menjadi dirinya sendiri karena ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Pengakuan dari orang lain atas eksistensi diri kita menjadi tolak ukur kebahagiaan, sehingga rasanya hidup belum sempurna jika belum ada orang yang memberi pujian atau pengakuan yang tinggi pada diri kita.Dengan demikian kebahagiaan menjadi pemberian atau belas kasihan orang lain bukan datang dari dalam diri sendiri
Yang semestinya kebahagiaan datang dari diri sendiri bukan atas pengakuan pihak lain

Dalam Hindu Bali kita mengenal dua golongan brahmana yaitu brahmana dwijati dan brahmana ekajati,untuk menjadi keduanya tidaklah mudah ada beberapa syarat yang harus di penuhi
Belakangan golongan ekajati menjadi primadona di masyarakat perkembangannya bagaikan jamur di musim hujan jika benar benar paham akan etika,tattwa,dan ritual maka ini menjadi angin segar buat perkembangan Agama Hindu Bali tapi jika sebaliknya maka entahlah apa yang akan terjadi kedepannya,sungguh sesuatu yang ironis.

Seiring dengan perkembangan jaman banyak masyarakat yang mencibir kedua golongan ini yang semestinya mereka menghargai dan menghormati sebagai pemuka agama dalam Hindu Bali.
Golongan eka jati paling sering di jumpai di beberapa tempat tidak mendapat pengakuan yang sepantasnya yang justru kebanyakan dari kerabat dekatnya shingga keberadaannya dan jasanya hanya di pakai warga bukan dari tempat tinggalnya atau wilayah di seputaran di mana mereka tinggal atau keluarga dekatnya.

Bahkan ada cerita seseorang yang akan menaikkan status dari ekajati ke dwijati justru tidak mendapat ijin dari keluarga dekatnya tidak tanggung tanggung sang keluarga melakukan upaya penjegalan agar apa yang di lakukan itu tidak berhasil atau gagal
Lebih tragis lagi baru melakukan pewintenan eka jati saja sudah mulai ada oknum2 melakukan upaya penjegalan dengan menghasut orang orang di sekitar agar apa yang di sampaikan terwujud shingga penjegalan berjalan lancar

Inilah fenomena yang terjadi di jaman kekinian yang sebenarnya sang ekajati dan dwijati tidak pernah menuntut mendapat pengakuan atau penghormatan berlebihan karena kedua golongan ini paham dalam menjalakan ajaran agama Hindu Bali

Golongan ini paham akan hakekat kesucian teruntuk diri sendiri bukan butuh pengakuan orang lain,melainkan kesucian dari dan untuk diri sendiri
Jika ini di pahami maka bukanlah sesuatu yang aneh jika ada orang yang berusaha menjegal karier seseorang dalam dunia spiritual itu semua merupakan upaya yang belum paham akan pentingnya sebuah kesucian dalam pandangan agama Hindu Bali

Tubuh di bersihkan oleh air,pikiran di bersihkan oleh ilmu pengetahuan dengan berpegang teguh pada sloka tsb maka tidak ada untungnya untuk menghalangi proses kesucian orang lain,karena hanya ilmu pengetahuan yang bisa mensucikan pikiran bukan pengakuan dari pihak orang lain

Daripada sibuk dan selalu merasa tidak puas karena ingin dapat pengakuan dari orang lain, lebih baik perbanyak bersyukur dan  biarkan Tuhan saja yang perlu mengakui keberadaan akan kebaikan dan proses penyucian yang telah di lakukan. Tidaklah perlu bermuka dua untuk mendapat pujaan dari alam sekala dan niskala
Cukup alam niskala saja karena kesucian proses yang utama secara niskala bukan saja sekala
Dalam rangka mensucikan diri adalah hak setiap pemeluk agama Hindu maka hentikanlah upaya menghalangi seseorang ketika akan meningkatkan kesucian yang semestinya di dukung dengan penuh bukan sebaliknya.



Oleh : Jmk Gde Nym Garnida

Tuesday, February 11, 2020

Tradisi metenung atau ngraganin dalam Hindu Bali untuk bayi yang baru lahir

Tradisi metenung atau ngraganin dalam Hindu Bali untuk bayi yang baru lahir
Agama Hindu punya lima keyakinan yg di sebut Panca sradha yaitu
1.Percaya terhadap adanya Brahman
2.Percaya terhadap adanya Atman
3.Percaya terhadap adanya Karmaphala
4.Percaya terhadap adanya Punarbhawa
5.Percaya terhadap adanya Moksa

1.Percaya terhadap adanya Brahman
Yaitu sebuah kepercayaan terhadap adanya tuhan yang maha esa hanya satu tidak ada duanya

2.Percaya terhadap adanya Atman
Yaitu sebuah kepercayaan adanya atman sang roh yang kekal dan menjiwai setiap mahluk hidup di dunia ini

3.Percaya terhadap adanya karmaphala
Yaitu sebuah kepercayaan akan hasil dari suatu perbuatan,yang baik akan menghasilkan kebaikan pula

4.Percaya terhadap adanya Punarbhawa
Yaitu sebuah kepercayaan akan kelahiran yang berulang ulang yang di sebabkan oleh karmaphala

5.Percaya terhadap adanya moksa
Yaitu sebuah kepercayaan akan adanya kebebasan dari hukum karmaphala,inilah tujuan dari Hindu.

kelima keyakinan ini menjadi dasar utama memeluk agama Hindu,bagi umat Hindu beragama merupakan hubungan bersifat pribadi dengan tuhannya,oleh karena demikian siapapun tidak boleh mencampuri urusan yg bersifat pribadi itu.

Menurut Hindu manusia terlahir ke dunia merupakan sebuah proses punarbhawa yg di sebabkan oleh karma phala,baik buruk kehidupan sekarang sangat di pengaruhi oleh karma masa kehidupan terdahulu,di takdirkan menjadi manusia adalah di sebabkan karma phala masa lalu,tdk usah terlalu bersedih sebaiknya harus berbangga karena sudah terlahir menjadi manusia,karena hanya manusia yang bisa menolong dirinya sendiri,inilah manusia di sebut sebagai mahluk yang utama di antara semua mahluk ciptaan tuhan.

Kesempatan terlahir menjadi manusia adalah patut di banggakan karena kesempatan ini adalah kesempatan emas yang bisa di pergunakan untuk memperbaiki kehidupan yang akan datang atau untuk mencapai moksa ( kebahagian yang kekal dan abadi).

Untuk bayi baru lahir di Hindu Bali punya tradisi yang di sebut metenung/metuun/graganin berbeda nama namun tujuan sama,perbedaan ini di sebabkan Desa Kala Patra namun pada hakekatnya tetap sama

Kata metenung berasal dari kata tenung yang berarti ramal jadi metenung berarti meramal.
Kata metuun berarti menurunkan,nah timbul pertanyaan siapa yang di turunkan ??  tentu sesuai yang di inginkan oleh yang metuun entah itu leluhur yang sudah meninggal atau yang baru lahir.
Kata graganin berasal dari raga yg bermakna roh yang menjiwai badan kasar manusia.

Dapat di simpulkan tradisi metenung/metuun/graganin adalah  bertujuan untuk mengetahui roh/atma yang berreinkarnasi ke dunia karena Hindu meyakini ada punarbawa atau kelahiran yg berulang ulang.
Ini juga bertujuan meminta petunjuk tentang upacara tetagihan (permintaan) sang reinkarnasi agar tdk salah dlm pelaksanaan upacara demi keselamatan dan kesehatan sang bayi di dunia dan juga kadang kadang ada permintaan nama dari roh/atman yang terlahir.

Oleh karena amat penting tradisi ini maka masih sangat lestari di masyarakat Hindu Bali
Walaupun jaman sudah sangat berubah tapi tradisi ini masih tetap berjalan.


Oleh : Jmk Gde Nym Garnida

Friday, February 7, 2020

BUDAYA dan AJARAN HINDU BALI MEMBAWA BALI TERSOHOR KE DUNIA HARUSKAH BERALIH AJARAN dan BUDAYA ?

BUDAYA dan AJARAN HINDU BALI MEMBAWA BALI TERSOHOR KE DUNIA HARUSKAH BERALIH AJARAN dan BUDAYA ?
Bali sebuah pulau kecil yg tak habis habisnya di bicarakan dunia karena indahnya alam bali dan begitu tertatanya bangunan Bali yang membawa aura damai shingga banyak di pelajari dunia dan banyak orang meniru tata cara menata bangunan Bali.

Keberhasilan subak (irigasi) membagi air pada sawah yang banyak di pelajari di dunia.
Kemudian ada tata cara membangun rumah yang di dasari perhitungan ukuran berdasarkan lontar asta kosala kosali dan asta bumi shingga bangunan Bali akan memberi aura damai bagi penghuninya inilah yang di sebut bangunan Bali metaksu.

Semua praktek ritual keagamaan di masing masing desa ketika di praktekkan berbeda beda (desa kala patra) namun menghasilkan beraneka budaya yang sangat di kagumi oleh wisatawan manca negara menyebabkan pulau Bali menjadi tersohor di dunia dan akhirnya membawa berkah buat Bali terutama dalam bidang pariwisata,tidak bisa di pungkiri memang sebagian besar masyarakat Bali bergantung dari sektor pariwisata.

Tanpa di sadari Agama Hindu Bali dan budaya Bali sudah menjadi rohnya pariwisata Bali
Yang membuat Bali makin tersohor di dunia dan di kagumi turis manca negara
Bahkan sekarang banyak yang meniru bangunan ala Bali di buat di luar Bali sebagai penarik wisatawan

Begitu juga dengan pura yang di juluki sebagai pulau seribu pura menjadi daya tarik wisatawan manca negara untuk melihat keindahan pura dan aura positif yang terpancar dari pura yang ada di Bali.
Dan di luar Bali sudah banyak pura berdiri bahkan di luar negeri seperti Belgia sudah ada pura.

Ajaran Hindu Bali juga punya konsep trihitakarana yaitu sebuah konsep keseimbangan antara alam dan manusia yang di harapkan berjalan selaras shingga alam Bali,yang di harapkan mampu memberikan kontribusi maksimal buat keberlangsungan hidup manusia.
Para tetua juga mengajarkan setiap ada penebangan pohon agar segera di ganti dengan yg baru ini merupakan ajaran lugu namun manfaat sangat besar buat manusia agar alam tetap lestari.

Ajaran Hindu Bali juga punya konsep NYEPI (silent day) yang mampu mengurangi polusi udara patut dijadikan contoh untuk mengurangi pemanasan gobal.

Nah segitu banyak manfaat dari ajaran dan budaya Hindu Bali yang di rasakan sekarang ini dan jangan biarkan yang mencoba mengusik ajaran ini yang bisa membuat Bali keropos.
Masih banyak lagi manfaat dari ajaran Hindu Bali yang tidak bisa di sebutkan satu persatu.

Sebaiknya ajaran Hindu Bali ini layak untuk di lanjutkan karena sudah terbukti memberikan banyak manfaat yang bisa di nikmati oleh generasi penerus.
Jika demikian masihkah mau beralih ajaran ?

Kirang langkung ampura mari saling melengkapi dan semoga bermanfaat





Rahayu
Oleh : Jmk Gde Nym Garnida

Saturday, February 1, 2020

Canang Sari sebuah yadnya sederhana memberi dampak yang besar


Di Bali yang mendapat julukan  pulau seribu pura tidak terlepas dari yadnya hampir setiap hari selalu tercium bau harum dari dupa setiap pekarangan rumah penduduk Hindu Bali.

Disamping dupa yang harum ada yang menjadi pendamping setia yaitu sebuah canang sari,begitu populernya nama canang sari hampir semua kalangan mengetahui bentuknya bahkan tidak susah untuk mendapatkan dengan jalan membeli yang hampir tersedia di pinggir jalan raya.

Sebenarnya masyarakat Hindu Bali sudah paham akan hakekat yadnya baik itu yadnya
Yang terkecil sampai terbesar,mereka selalu mulai dari yadnya yang terkecil,mereka paham akan satwika yadnya tidak harus yang besar asalkan niat yang lascarya,mereka sudah praktekan yadnya yang terkecil (kanista) hampir setiap hari mereka ekpresikan cinta dan bhakti mereka kepada tuhannya melalui sebuah canang sari.
"Sekuntum bunga sebiji buah setangkai daun seteguk air AKU terima persembahan dari yang maha suci" sloka (Bhagawad Gita) itu cukup terwakili dari sebuah canang sari Karena isi dari sebuah canang sari antara lain ; Daun janur,tebu,bunga,porosan sulasih,kembang rampe dan bija inilah Yadnya dalam bentuk terkecil bagi umat Hindu di Bali

Canang sari belum bisa di kategorikan sebagai banten tapi canang sari adalah unsur pembentuk banten tanpa canang sari bantenpun belum bisa di kategorikan siap di pakai sebagai sarana upakara.

Maka dapat di simpulkan canang sari memegang peranan penting dalam sebuah banten atau ada yang mengatakan canang sari sebagai kanista (inti) karena merupakan inti maka pada setiap banten wajib ada canang sari.

Dalam lontar kanda pat sari di sebutkan ajuman 100 dulang alah dening ajuman satu dulang asalkan di dasari niat yang lascarya dan keyakinan tinggi,maksudnya yadnya yang besar bisa di kalahkan sama yadnya yang kecil asalkan niat yang beryadnya betul betul lascarya.

Dengan berpijak dari isi lontar itu walau hanya sebuah canang sari jika di buat sesuai aturan dan di persembahkan dengan rasa yang lascarya dan bhakti yang mendalam maka akan berdampak sangat besar atau mampu memberikan hasil yang maksimal

Jika demikian jangan ragu dan malu menggunakan canang sari di manapun dan kapanpun ketika mengekpresikan rasa syukur dan rasa cinta kasih pada saat memuja kebesaran tuhan,karena kalau yang sederhana dan murah bisa memberikan hasil yang maksimal buat apa memakai yang mahal dan jangan di maknai tidak boleh memakai yang mahal atau banten yang besar.

Bisa di bayangkan jika saja tdk ada canang sari maka praktek ritual keagamaan bagi sebagian umat Hindu di Bali bisa tertunda,sungguh sangat mulianya ajaran leluhur orang Bali sehingga umatnya selalu bisa mempratekan ritual agama yang kini bisa kita jumpai di setiap pelinggih dan dari pelosok desa sampai perkotaan atau perkantoran,villa,hotel,restaurant,swalayan bahkan Airport Ngurah Rai yang sudah modernisasi masih kita jumpai ada canang sari.
Ini bukti nyata ajaran leluhur masih sangat relevan di tengah gempuran pengaruh budaya luar dan di jaman globanisasi ini,ajaran ini masih tetap lestari.

Bagi kalangan yang dari segi ekonomi mampu mungkin bukan beban namun bagi kurang mampu maka memakai yang sederhana adalah jalan bhakti yang sudah sesuai aturan dalam sastra asalkan tetap niat yang lascarya.

Om Shanti Shanti Shanti om

Oleh Jmk Gde Garnida